Friday, 15 May 2015

Anak - Anak Cenderawasih

               Aku adalah anak pegunungan, aku lahir di tempat yang jauh dari listrik, jaringan telepon, dan air bersih seperti anak" lain rasakan. Tapi, aku bangga karena kekurangan kampung halaman aku di tutupi oleh kelebihan alam nya luar biasa indah bagaikan surga yang tersembunyi, sehingga tak mematahkan semangat ku untuk terus menantikan kedatangan Tuhanku, Allahku yaitu Yesus Kristus karena itulah tujuan dan visi dari hidupku. Aku dibesarkan dengan kasih sayang dan perhatian yang tak pernah aku bisa gantikan dari orang tua ku dan aku sangat bangga dan bersyukur akan dengan selalu menaikan doa tanda ucapan syukurku kepada Tuhan.

            Namun, ada hal yang selalu mengganggu hatiku disetiap langkah dalam menjalani hari - hari hidupku di bumi ini. Itu karena tersimpan kesedihan yang sangat dalam dari lubuk hati ku tentang tanah ku. Aku melihat banyak hal" yang membuat hati ini terasa seperti ada luka yang tak bisa di di sembuhkan hanya dengan perkataan yang berhikmat dan perbuatan yang bijaksana.
          Setiap kali kulihat ada orang yang di siksa hanya demi segenggam keadilan, anak yang menangis karena membutuhkan seuntai kasih sayang dari orang tua, dan alam yang membutuhkan setitik harapan menghirup kebebasan. Dimana - mana terdengar tangisan dan teriakan dari bawah kepada Tuhan yang maha kuasa, "adakah generasi yang dapat memberikan suatu perubahan yang dapat dirasakan oleh setiap masyarakat yang tinggal di tanah ini, atau dapatkah tanah ini terbebas dari lingkaran setan yang mengikat, membelenggu, dan memperbudak tanah ini. Apakah aku harus berbicar kepada batu yang hanya menatap ku curiga seolah menyalahkan semuanya kepadaku atau kepada rumput di padang dan pohon" yang hanya bergoyang kekiri dan kekanan seolah tidak terjadi apa", mengapa tanahku terus menerus bersedih dan mengucurkan air mata. 
           
           Apakah yang dapat aku perbuat kepadamu untuk menghilangkan air mata yang tak dapat berbicara dan dan yang tak dapat dilihat oleh hati yang terikat dengan ketamakan, kemunafikan, dan keegoisan yang besar seperti jamur yang tumbuh dengan bebas. Inilah harapan ku yang kutaruh dan kepercayaan ku yang ku berikan padamu tanahku Papua bahwa suatu saat kan muncul suatu generasi yang dapat menggenapi firman yang di ucapkan oleh Samuel Isaac Kijne bahwa "barang siap yang bekerja dengan jujur akan melihat tanda heran yang satu ke tanda heran yang lain", memulihkan dan mengangkat engkau ke tempat yang layak dan yang seharusnya kau peroleh, dan menggembalikan air mata yang tak bersuara dan menggantikannya dengan senyuman besar yang tak tergantikan dan yang tak pernah terhapuskan lagi.
                Inilah suara dari balik gunung - gunung dari lembah - lembah dan dari hati yang bisu dan sakit akan keadaan tanahku, PAPUA ......
Oh, Tuhan Yesus dengarlah seruan tanah ini yang tak dapat di dengar oleh matahari, bulan maupun bintang dan patahkanlah rantai serta belenggu yang mengikat leher alam cendrawasih mu ini dan memperbudak kebebasan dan kemerdekaan tanah ini, tanah yang diberkati, tanah emas dan permata, dan tanah surga yang tersembunyi yang di bumi paling timur, Amin

# curahan hati serta se percik harapan dari hati yang terluka dan yang tak dapat berbicara.

To be Continued ....